Jumat sore, 13 September 2019 sejumlah warga berkumpul di sekitar kompleks balai RT 24 B Sidomulyo, Krikilan, Masaran, Kabupaten Sragen. Kompleks balai RT 24 B yang terdiri atas bangunan Poskamling, Gudang RT, Ruang Pertemuan RT dan Gedung PAUD tersebut terlihat lebih ramai dibanding hari lainnya. Pada area di sisi timur Poskamling tersebut digali sumur dalam. Mereka menunggu proses pemasangan pompa submersible pada sumur dalam yang baru saja selesai penggaliannya sehari sebelumnya.

Dukuh Sidomulyo RT 24 B, merupakan salah satu dukuh di Kebayanan III Kelurahan Krikilan, yang memiliki level ketinggian yang lebih dibandingkan daerah lainnya di Kelurahan Krikilan. Hal tersebut pada satu sisi menguntungkan karena lebih aman dari persoalan banjir. Namun ketinggian yang lebih tersebut juga mengakibatkan pasokan air yang berkurang tekanannya ketika datang musim kemarau. Warga RT 24B sering mengeluhkan persoalan tersebut. Secara finansial warga RT 24 B Sidomulyo memiliki tingkat kemakmuran yang lebih baik dibandingkan dukuh lainnya. Hal ini terkait dengan jenis pekerjaan mayoritas penduduk dukuh Sidomulyo, yang berimplikasi pada penghasilan yang cukup baik. Penghasilan yang cukup menjadi salah satu sebab konsumsi air yang tinggi dan keterbatasan air merupakan kendala bagi mereka.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, dibangun PAM Swadaya atas usulan kegiatan pengabdian masyarakat dari salah satu Dosen UMS, Agus Ulinuha, PhD. Skim pengabdian yang diraih untuk pembangunan tersebut adalah Program Kemitraan Masyarakat. Pendanaan yang diraih dimanfaatkan untuk membangun sumur, membeli pompa submersible, pembangunan tandon air dan instalasi pemipaan. Sumur sedalam 81 m, dengan diameter pipa 4 dim kini telah dipasangi pompa dan siap dinyalakan. Sejumlah warga terlihat membantu pemasangan pompa. Waktu menunjukkan sekitar pukul 5 sore, ketika pompa selesai dipasang berikut sambungan daya nya. Sakelar pun ditekan dan kemudian air memancar dengan kuat dari sumur.
Sorak sorai dan tepuk tangan serta ungkapan kebahagiaan disampaikan oleh warga yang berkumpul di lokasi tersebut. Rona kebahagiaan memancar dari wajah mereka, karena harapan akan kecukupan air di musim kemarau. Air yang memancar memang belum bening karena proses pembersihan yang kira-kira memakan waktu 2 jam. Namun wajah-wajah yang hadir tampak cerah karena adanya harapan baru tersedianya air secara cukup untuk mereka.
Waktu mulai gelap dan adzan maghrib telah terdengar. Pompa masih menyala dan air yang mengalir mulai tampak jernih. Namun pompa tetap dinyalakan untuk mengetahui kapasitas pasokan air. Sampai dengan bakda Isya pompa masih menyala dan air telah bening. Debit air yang keluar dari pipa 2,5 dim terlihat masih sangat besar. Kini warga cukup yakin akan ketersediaan air yang memadai. Namun pekerjaan masihlah harus diselesaikan. Masih perlu dibangun tandon dan pemipaan agar air sampai kepada 35 KK di dukuh Sidomulyo tersebut. Rencana kedepan adalah pemanfaatan sel surya sebagai sumber energi bagi pompa yang dipasang. Hal ini dimaksudkan untuk penyediaan air menggunakan energi terbarukan, begitu papar Agus. Namun untuk keperluan tersebut dia akan mengusahakan sumber dana lain. Dana dari Kemenristek dikti hanya cukup untuk menggali sumur, pemipaan di sumur dan pembangunan tandon. Untuk keperluan penyaluran ke warga, akan didukung oleh RT, sedangkan untuk pembelian dan pemasangan sel surya akan dbuat proposal ke UMS, demikian paparnya sebagai tambahan penjelasan.

Pelaksana Kegiatan, Agus Ulinuha (tengah) berada di antara warga menyaksikan proses pemompaan perdana sumur dalam